Setiap orang yang secara melawan hukum dengan melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi tugas wartawan dapat dipidana penjara paling lama 2 tahun atau denda paling banyak Rp.500.000.000 (lima ratus juta rupiah) sesuai UU PERS no 40 tahun 1999 * Berita Online Rakyat Bagian Orde Reformasi * Borbor News *

Kisah Saripah dan Bayinya Dengan Pelayanan Rumah Sakit dan BPJS Menjadi Pelajaran Semua Pihak

Borbor NewsMakassar - Saripah dan bayinya merupakan salah satu pasien warga miskin kota makassar yang diketahui suaminya bekerja serabutan, kadang kerja kadang tidak. Sesuai data yang kami himpun, keluarga ini kontrak di jalan kerung - kerung lorong santaria kec. makassar.
Trino Nugrah yang menemani istri dan anaknya di Rumah Sakit St Fatimah mendapatkan pelayanan yang tidak sesuai harapan kekuarga dari pihak rumah sakit. Pasalnya, anaknya hendak dirujuk ke rumah sakit lain dengan alasan fasilitas rumah sakit tidak memadai. Selasa (11/06/2019)

Sementara itu, istrinya yang baru melahirkan sang bayi secara sesar masih dalam keadaan kritis pasca operasi.

"Keadaan istri dan anak saya masih dalam keadaan kritis, mereka butuh perawatan," kata Trino. Katanya rumah sakit pemerintah propinsi sulsel khusus melayani pasien ibu dan anak tapi kenapa begini pelayanan dan manajemennya, lebih buruk dari yang kami kira, ungkapnya dengan nada kesal.

Trino bercerita bahwa sebelumnya, Dokter mengatakan ada alat yang mau dibeli seharga Rp.3 juta yang tak ditanggung BPJS. Lalu, dia meminta keringanan karena tak mampu mendapatkan uang sebanyak itu. "Cuma itu jalannya," kata Trino menirukan ucapan dokter. 

Setelah itu, Trino mengaku menelpon tim pendamping dari kementerian kesehatan RI, lantas pihak terkait langsung berbicara dengan dokter.

"Lalu dokter tiba-tiba mengubah pernyataannya dengan mengatakan harus dirujuk di rumah sakit lain, " kata dia dengan kesal.

Berdasarkan pernyataan dokter yang tak memberinya kepastian dan sempat ribut dengan dokter tersebut. 

Sebelumnya, Pihak BPJS mengatakan bisa diaktifkan kartu BPJS-nya si bayi sebentar malam untuk membantu meringankan beban biaya, namun setelah mengalami pergantian jadwal pihak BPJS berkata lain.

"Saat anak saya mau dirujuk, pihak BPJS mengatakan tidak bisa diaktifkan, harus berlaku umum, " kata Trino menirukan ucapan pihak BPJS. Dimana saya mau ambilkan uang sedangkan ini saja untuk beli popok dan pakaian bayinya tidak saya belikan karena tidak punya biaya sama sekali, tambahnya

Berdasarkan hal tersebut, Trino mengatakan manejemen rumah sakit sangat amburadul. Terbukti, kata dia, saat istrinya belum mengunakan BPJS penanganan dokter sangat tak maksimal.

"Saat aktif baru ada obat, meski begitu tak ada perawat senior yang menangani pasien. Tidak ada," ujarnya.

Kekesalannya pun bertambah saat mendapati Perawat dan Dokter Main karaoke di dalam perawatan bayi Rumah Sakit Fatimah. 

"Saat terjadi pergantian jadwal, mereka main karaoke menggunakan pelantang, kayak anak nongkrong, dianggap biasa saja," kata Trisno saat ditemui di Rumah Sakit Fatimah. Ia merasa diacuhkan, dan tak mendapatkan pelayanan yang maksimal. 

Sementara itu, pihak rumah sakit menyebut pemindahan bayi tersebut ke Rumah Sakit Tajuddin lantaran fasilitas yang tak memadai untuk merawat sang bayi.

Diketahui sang bayi mengalami gangguan pernapasan saat dilahirkan diakibat bayi tersebut padab saat di operasi sudah diluar plasenta dan tali pusarnya sudah putus, sehingga dokter RSB Fatimah mengambil tindakan untuk menyelamatkan bayi tersebut.

Terkait masalah kebutuhan ASI sang anak, Dokter yang menangani mengatakan ASI sang ibu bisa dipompa melalui peralatan yang ada.

"Ini masalah nyawa bayinya yang perlu diprioritaskan," terangnya.

Selain itu, Dokter mengatakan kalau kondisi ibunya sudah baik, dia bisa menyusui anaknya di rumah sakit Tajuddin. "Kalau sudah diizinkan untuk pulang, ibunya silakan datang ke bayinya," jelasnya. (Restu)

Sumber: Redaksi

Subscribe to receive free email updates: