http://go.oclaserver.com/afu.php?id=1316778 Oknum Polsek Taruma Jaya Diduga Berprofesi Ganda Sebagai Debkolektor - Borbor News Berita Online Republika Bidikan Orde Reformasi (Borbor News)

Pengikut

Anda menemukan atau mengalami "PUNGUTAN LIAR" Segera Laporkan melalui: www.saberpungli.id www.lapor.go.id Atau menghubungi: Telepon Hotline 193 SMS 1193
Ingin pasang iklan di http://www.borbornews.com Pembaca setiap hari 10.000 Minat hubungi kami via email: iklanbn@gmail.com
BORBOR: Berita Online Republika Bidikan Orde Reformasi | Email Redaksi: redborbornews@gmail.com | Email Iklan: iklanbn@gmail.com
Undang-Undang tentang Pers nomor 40 Tahun 1999 pasal 18 ayat 1“ Setiap orang yang secara melawan hukum dengan melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi tugas wartawan Sesuai ketentuan pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana penjara paling lama 2 tahun atau denda paling banyak Rp.500.000.000 (lima ratus juta rupiah)

Oknum Polsek Taruma Jaya Diduga Berprofesi Ganda Sebagai Debkolektor


Sumber foto wantara

Gunakan Kendaraan Dinas dan Berseragam Lengkap dampingi Penagih Uang

BorborNews - Dengan menggunakan kendaraan dinas Polri, empat oknum Polisi dari Polsek Taruma Jaya, dua diantaranya berseragam lengkap  Jumat (13/6) lalu diduga berperan ganda sebagai penagih hutang (debkolektor) dengan mendatangi kediaman Dahlan Malau di Kebon Kelapa Gg Poncol RT 007/RW 02 No. 55, Desa Segara Makmur, Kec. Taruma Jaya, Kabupaten Bekasi. Kedatangan ke-empat anggota Polsek Taruma Jaya tersebut adalah untuk mendampingi  Dewi Marpaung istri dari Juni Panjaitan warga Kp Baru Cakung Barat, Jakarta Timur untuk menagih pengembalian uang DP rumah sebesar RP. 10.000.000.

Kedatangan ke-empat petugas dari Polsek Taruma Jaya dengan menggunakan mobil dinas dan berseragam lengkap kerumah Dahlan Malau sontak membuat heboh lingkungan setempat. Bahkan istri Dahlan yang kala itu sedang dalam keadaan sakit sempat mengalami sochk dan terpaksa harus dibawa berobat. Demikian juga anak-anak Dahlan hingga saat ini mengalami trauma dengan rasa takut yang amat sangat akibat terlalu sering mendengarkan kata-kata “akan diangkat kekantor Polisi” seperti yang ditirukan Dahlan.

Demikan dikatakan Dahlan kepada WANTARA di rumahnya Senin (18/8) lalu saat meminta pendampingan kepada tim DPP LSM GERAK untuk memenuhi panggilan penyidik Polsek Taruma Jaya.

Dikisahkan Dahlan bahwa perkara tersebut bermula dari pembatalan jual beli rumah miliknya dengan Juni Panjaitan pada awal Juni 2014 lalu.

Dijelaskan Dahlan, perjanjian jual beli rumah miliknya yang berdiri di tanah garapan yang terletak di gang Poncol Desa Segara Makmur dilakukan atas dasar kesepakatan harga senilai Rp. 67.000.000 dengan pembayaran dimuka (DP) sebesar Rp. 10.000.000 dan sisanya akan dibayarkan setelah surat keterangan oper alih garapan sebagaimana mestinya diselesaikan.

Jangka waktu penyelesaian surat menyurat sebagaimana dibuat dalam perjanjian yang diberi judul Kwitansi dan ditandatangani diatas meterai Rp. 6.000 dinyatakan bahwa – sisa pembayaran akan dilunasi segera bila surat-surat yang berkaitan telah selesai diurus dan ditandatangani pihak-pihak terkait. – Uang atas pembayaran dimuka akan dikembalikan penuh apabila penjual ( Bp. Dahlan Malau) tidak bisa atau tidak dapat menyelesaikan surat-surat termaksud dalam jangka waktu paling lambat dua mingu setelah ditandatanganinya kwitansi tersebut.

Permasalahan timbul manakala dalam waktu 7 hari Dahlan telah menyelasaikan surat-surat rumahnya. Sebelum ditandatangani oleh pihak-pihak terkait, Dahlan terlebih dahulu meminta Juni Panjaitan untuk memeriksanya, dan pada tanggal dan waktu yang ditetapkan Dahlan mengumpulkan pihak-pihak terkait dirumahnya. Setelah para pihak berkumpul Dahlan menghubungi Juni Panjaitan dan memintanya untuk datang melakukan penandatanganan dan pelunasan jual beli rumah tersebut, jelas Dahlan.

“Apa hendak dikata,” lanjut Dahlan, pada saat itu Juni membatalkan jual beli rumah tersebut dengan alasan bahwa dia kesulitan untuk meminjam uang kepada saudara-saudaranya untuk tambahan pelunasan pembelian rumahnya sebab menurut keluarganya surat-surat bukti kepemilikan rumah dan tanah garapan tersebut tidak dapat diterima keluarga.

Untuk itu Juni meminta Dahlan mengembalikan uang DP rumah sebesar Rp. 10 juta secarapenuh. Meski kewajiban untuk mengembalikan uang DP sebesar Rp. 10 juta tersebut tidak tercantum dalam perjanjian jual beli berjudul Kwitansi, dengan itikad baik Dahlan bersedia mengembalikan seluruh DPnya.

Mengingat uang DP yang diterimanya telah dipergunakan untuk biaya berobat dan biaya pendidikan anak-anaknya sesuai maksud dan tujuan  rumah miliknya dijual, maka Dahlan pada hari itu hanya dapat mengembalikan sebesar Rp. 2 juta, sementara untuk sisanya akan dikembalikan dengan cara mencicil sebesar Rp. 1 juta setiap Bulannya, namun Juni Panjaitan menolak dan bersikukuh saat itu juga menginginkan dikembalikan secara penuh.

Sejak saat itu Juni Panjaitan selalu uring-uringan dan berteriak-teriak di sekitar rumah Dahlan sambil melontarkan kata-kata kasar dan menuduh Dahlan sebagai penipu. Tak jarang Juni Panjaitan mengancam akan mengangkat Dahlan beserta keluarganya ke kantor Polisi untuk dipenjarakan dan puncaknya adalah kedatangan Juni Panjaitan didampingi ke-empat petugas dari Polsek Taruma Jaya dengan berpakaian seragam dan menggunakan mobil dinas  pada tanggal 13 Juni 2014 lalu.

Kedatangan Juni Panjaitan bersama ke-empat anggota Polsek Taruma Jaya tersebut menyebabkan terbitnya Surat Pernyataan yang isinya akan mengembalikan uang DP paling lama satu bulan yakni 13 Juli 2014. Meski keberatan karena merasa tidak mampu, namun karena takut dipenjara meski dengan dengan berat hati Dahlan terpaksa menadatangani surat pernyataan tersebut, ungkapnya.

Bahkan bukan hanya sekali itu saja Juni Panjaitan membawa petugas kerumahnya, pernah suatu waktu Juni membawa seseorang yang mengaku anggota Kepolisian Bandung dengan ancaman akan mengangkat dan membawa keluarga Dahlan tanpa menjelaskan kemana akan membawanya.
  • Surat Panggilan
Gagal melakukan penagihan lansung, atas dasar Laporan Polisi No. Pol : LP : LP/  /141/VII/2014/Resta Bks, tanggal 17 Juni 2014, Penyidik Polsek Taruma Jaya mengirmkan Surat Panggilan bernomor No. Pol : S.Pgl/36/VII/2014/Sek.TJ, tanggal 29 Juli 2014, untuk Masda Simatupang istri Dahlan dan Surat Panggilan No. Pol : S.Pgl/39/VIII/2014/Sek. TJ, tanggal 16 Agustus 2014 untuk Dahlan, yang keduanya ditandatangani oleh Kapolsek Taruma Jaya AKP Suwari dan diserahkan oleh Brigadir Irwanto, SH, salah satu petugas yang mendampingi Juni Panjaitan mendatangi rumah Dahlan.

Keduanya dipangil sebagai saksi dalam perkara pidana Penipuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 378 KUHPidana atas nama korban Sdri. Dewi Simangunsong, tanpa menjelaskan unsur tindak pidana sebagaimana dimaksud serta tanpa mencantumkan tanggal dan lokasi kejadiannya pada uraian singkat dalam surat panggilan sebagaimana diisyaratkan oleh Undang-undang.

Ironisnya, pada saat mengantar Surat Panggilan tersebut Irwanto tak lupa bertanya “apakah ada titipan uang sebesar Rp. 5 juta untuk istri Panjaitan,” ceritera istri Dahlan.

Ketika dikonfirmasi, Bripka Irwanto SH, penyidik yang menangani perkara tersebut kepada WANTARA diruang kerjanya Senin (18/8) lalu mengatakan bahwa kedatangannya ke rumah Dahlan pada tanggal 13 Juni lalu bukanlah sebagai penyidik, sebab menurutnya, saat itu belum dibuat Laporan Pengaduannya. “Kedatangan kami saat itu bukan sebagi penyidik bang, kami sebagai anggota Polri berupaya untuk membantu keduanya melakukan mediasi, dan jikalau dimungkinkan tanpa harus membuat Laporan Polisi” tuturnya.

Ditanya perihal surat panggilan yang tidak memuat unsur tindak pidana penipuan dan lokus kejadiannya, dijawab “sedang dalam penyidikan dan tersangka pelakunya belum ditetapkan bang”.

Terkait terlapor, dijelaskan bahwa terlapornya adalah  Bapak Dahlan namun tidak dicantumkan dalam surat panggilan, terangnya.

Saat akan dikonfirmasi, Kapolsek Taruma Jaya, AKP Suwari, SH, yang baru tiba dari Polresta Bekasi terlihat letih dan mengurng diri di dalam ruang kerjanya sehingga WANTARA membatalkan wawancara. (W*)


Baca Berita terkait:
1. Dahlan Malau Tidak Terima Disebut Penipu Terkait Pembatalan Jual Beli Rumah
2. Ny. Masda Simatupang Tidak Dapat Hadir, Pada Surat Panggilan Ke II dikarenakan Kurang Sehat
3. Dahlan Malau Hadiri Panggilan Penyidik Dan Menolak Isi BAP yang Tidak Sesuai Fakta
4. Juni Panjaitan Memberikan Keterangan, Sesaat Keluar Dari Ruangan Pemeriksaan Penyidik Polsek Tarumajaya
5. Pembeli Rumah Garapan Beserta 4 Oknum Polisi Mendatangi Rumah Dahlan Malau
 
Copyright © 2013-2017. Borbor News
  • Email redaksi: redborbornews@gmail.com